Coretan PP Himmah Aminullah Soal Deforestasi Kalimantan

Related

Share

Opini Aminullah, Pengurus Pusat Himmah – Semuanya bermula dari penebangan kayu yang marak terjadi sejak tahun 80-an, namun setelah itu berubah fungsi menjadi tambang-tambang batubara dan perkebunan sawit.

Ditambah dengan adanya penambangan liar di area tambang resmi yg di garap oleh mereka yg punya kekuatan wilayah yg sulit untuk di tertibkan.

Adanya kerjasama sistem plasma kepada masyarakat dari perusahaan-perusahaan sawit sehingga memudahkan atau membuat masyarakat setuju dengan perkebunan sawit.

Ataupun kubangan-kubangan tambang yang tidak direklamasi yang ‘katanya‘ dilakukan bukan oleh perusahaan pemegang KP (Kuasa Penambang) sehingga perusahaan tersebut enggan melakukan reklamasi.

Banyaknya daerah-daerah hutan yang sebenarnya tidak boleh di garap ataupun ditambang, namun pada akhirnya tetap digarap oleh penambang liar yang punya power wilayah.

Akan tetapi saat di ekspor atau dijual mereka menggunakan surat-surat resmi milik tambang resmi. Mungkin disini terjadi kesepakatan tersembunyi antara perusahaan yang punya ijin tambang dengan penambang liar.

Sementara lahan-lahan hutan atau wilayah hutan memang sudah dikuasai atau dibagi-bagi KP (Kuasa Penambang) atau wilayahnya oleh para pejabat-pejabat tinggi yang tidak terekspose, sehingga pembebasan lahan terkesan lebih mudah.

Pengalihan lahan hutan lindung ke lahan lainnya yang justru bukan hutan lindung agar hutan lindungnya dapat di ekplorasi, misalnya alih fungsi lahan atau tukar guling lahan hutan lindung dengan rawa berair (susah di buktikan).

Masyarakat di desa terakhir atau masyarakat sekitaran tambang terkesan sudah di berikan bermacam bantuan dan ikatan kerja oleh perusahaan tambang, sampai anak-anak mereka, dan para tokoh di pedalaman diberikan beasiswa sekolah sampai kuliah dan perjanjian kerja nanti setelah selesai kuliah.

Banyak hal yang tersembunyi di balik pengrusakan hutan kalimantan.