Magelang – Robertus Kurnia Agung sudah 5 bulan berada di Lapas Magelang, meninggalkan seorang istri, Margareta Niken dan dua anak tercintanya, Ocha (12th) dan Vincent (7th).

Kepergian Robertus awalnya tidak dicurigai oleh keluarganya, beliau pamitan ke Magelang dengan alasan karena dipanggil Polres atas dasar alat alat pemadam kebakaran yang dibelanjakan ke Nurhakim (General Manajer PT ETI).

Robertus pun tidak curiga dan berprasangka buruk apa pun, ketika di panggil Polres untuk dimintai keterangan persoalan pembelanjaannya ke Nurhakim. Dengan sangat terbuka Robertus menyampaikan apa adanya apa saja yang dibelanjakan itu.

Meskipun pada awalnya pemanggilan sebagai saksi, tapi sesampainya di Polres Magelang, tepatnya Hari Senin, 27/07/20. Robertus langsung di BAP dan tidak kembali lagi ke Bekasi.

Sebagai mantan aktifis ’98 nampak sekali kalau Robertus masih merasa tidak ada kesalahan dalam melakukan transaksi jual beli ini. Kenapa? Karena Robertus dalam transaksi jual beli membeli barang barang yang dibutuhkan sesuai prosedur pembelian lewat pesanan, dan bahkan barang yang terkirim pun dilampiri invoice dari perusahaan.

Jadi semua pembelian barang lewat prosedur perusahaan bukan perseorangan, itulah kemantapan Robertus menghadiri panggilan kepolisian Polres Magelang ketika dimintai keterangan. Kalau pun toh pada akhirnya Robertus langsung masuk bui, bagi Robertus ini adalah ujian yang ia hadapi dengan tabah.


Robertus yang lahir di Jakarta, 8 Desember 1976, dan membuka usahanya di Cilacap dengan nama PT Kurnia Teknik pun akhirnya sampai sekarang masih mendekam di LP sebagai pesakitan dengan tuduhan sebagai penadah barang haram. Tetapi apakah benar barang barang yang dibeli robertus ini disebut haram, meskipun dalam pembeliannya semua bukti invoice juga terlampir?

Robertus hanya pasrah menjalani sidang pengadilan yang seperti dagelan, segala pembelaan sepertinya tidak ada artinya, banyak nama nama yang tertera di dalam BAP ternyata hanya dirinya lah yang disidang, sementara yang lain masih bisa berkeliaran kemana mana.

Pengakuan Robertus dalam pembelian alat alat pemadam kebakaran hanya berkisar 198 jt, tetapi perusahaan yang dirugikan atas penggelapan ini katanya mencapai 1,7 M.

Benarkah Robertus merupakan seorang penadah? Sementara Robertus adalah juga aktifis gereja, dan dikenal di kalangan aktifis gereja, robertus orang yang pendiam, nerimo, tidak banyak omong dan karena sifatnya yang tidak ingin merepotkan orang lain, makanya ketika datang ke polres Magelang dengan gentlenya datang sendiri tanpa pengacara atau tim pembela lainnya.


Senin (21/12/2020) merupakan hari putusan pengadilan atas prasangka sebagai penadah barang barang haram. Dalam benak Robertus hanya bisa berdoa, semoga Tuhan Kristus mengampuni dosa dosanya. Dan vonis 2,6 tahun adalah yang sangat tidak adil, dalam sejarah pengadilan kabupaten Magelang mungkin vonis yang sangat monumental dan jarang berlaku untuk sebuah kasus sebagai penadah.

Berat dan sangat memberatkan kalau benar benar itu menjadi sebuah keputusan. Tidak ada kata terlambat bagi robertus, untuk selalu memanjatkan doa Pujinya.


Dia hanya ingat akan isteri terkasihnya dan kedua anaknya yang masih butuh bimbingan kedua orang tuanya, yang seharusnya dalam 5 bulan terakhir ini terapi autis, ternyata tidak bisa dilakukan karena robertus kini mendekam di balik jeruji penjara tanpa diketahui kesalahannya apa sebelumnya.

Keyakinan Robertus masih tetap sama, “saya membeli barang kepada Nurhakim dengan legal,” katanya.

Karena semua transaksi yg dilakukan hanya satu niatnya: menafkahi keluarga dengan cara halal.

“Ya betul saya memang belanja barang ke atas nama dan sudah berlangsung hampir 2 tahun ini. Kalau nasibku di penjara sebagai tumbal dari raksasa konglomerasi, saya hanya pasrah sebagai wong cilik yang tidak berdaya apa apa. Semoga tuhan mengampuni, dosa dosa hakim, jaksa, dan yg membuat BAP saya bersalah. Dan tentu saja, mereka dimasukkan dalam surganya atas jasa jasanya menjadikan saya sebagai orang pesakitan,” ujarnya.

Dan hari ini isteri Robertus, Margareta Niken sudah berada di Jogja, khusus mendampingi suaminya. Apa pun keputusan pengadilan, isteri hanya memohon, “berilah keadilan yang seadil adilnya buat suamiku,” katanya setengah berbisik.

Hanya keajaiban Natal 2020 yang dinanti, dengan menunggu kereta Santo membawakan kunci pembebasan bersyaratnya.