Suarabangsa, Sidrap, Sulawesi Selatan – Sungai Bila merupakan sungai yang berada di kecamatan Pituriase kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan dimana sungai bila bermuara ke danau Tempe Kabupaten Wajo. Di Sungai ini terdapat Bendungan yang didirikan oleh pemerintah pusat pada tahun 1995, dimana bendungan Bila ini mampu mengairi sawah masyarakat seluas 7,488 Ha.

Aliran Sungai Bila ini juga merupakan sumber pengairan bagi aktivitas pertanian mulai dari kecamatan Pituriase kabupaten Sidrap, kecamatan Duapitue kabupaten Sidrap, hingga kecamatan Maniangpajo Kabupaten Wajo. Berdasarkan catatan AMPSB dan Walhi Sulsel, aliran sungai Bila merupakan sumber air bagi sekitar 16.500 warga, serta area ikan air tawar yang selalu di tangkap masyarakat untuk makan sehari-hari.

Bahwa sejak 2018 kami mengadvokasi dan menyuarakan kerusakan lingkungan yang terjadi di sungai Bila oleh para pelaku usaha tambang, sungai Bila yang dulunya merupakan sumber penghidupan masyarakat telah berubah menjadi kubangan yang tidak memiliki manfaat, melainkan area yang berbahaya dan sudah banyak merenggut nyawa manusia, tegas Andi Kengkeng.

Andi Kengkeng juga melayangkan surat terbuka kepada pemerintah pusat kususnya Presiden RI, berikut kami sampaikan surat terbuka masyarakat sekitar sungai Bila yang diwakilkan oleh Andi Kengkeng:

“Bahwa berdasarkan catatan kami sejak penambangan tradisional mulai tergeser keberadaannya setelah sekitar tahun 2000an dan Penambangan sudah memakai peralatan canggih seperti eksakavator atau alat berat.
kami memulai melakukan investigasi di sungai Bila setelah adanya laporan masyarakat tahun 2018, dan sungai Bila mengalami kerusakan lingkungan yang cukup parah oleh ulah para penambang Sungai Bila. Dari investigasi yang kami lakukan sejak tahun 2018 sampai 2020 kami menemukan beberapa hal sbb:

  1. Para penambang di SUNGA BILA telah melakukan pelebaran Sungai yang cukup luas.
  2. Melakukan pengerukan yang cukup dalam di dasar Sungai Bila.
  3. Para penambang Sungai BILA sudah mengerucut masuk ke perkampungan dan membelokkan aliran sungai Bila untuk mencuci material kebun masyarakat yang mereka beli yang kami anggap masyarakat menjual tanahnya hanya karena terpaksa.
  4. Jalanan di Desa Bila Riase, kecamatan Pituriase kabupaten Sidrap yang di bangun oleh pemerintah melalui dana PNPM MANDIRI yang dulunya di peruntukan untuk para petani kini di alih pungsikan menjadi jalan tambang.
  5. Jalanan PNPM MANDIRI tersebut diatas sudah banyak terancam longsor dan bahkan sudah ratusan meter iku mereka Tambang.
  6. Akibat aktivitas tambang yang mengerucut ke daratan dan mendekati perkampungan itu akan berakibat patal ketika terjadi curah hujan yang cukup tinggi dari hulu ke hilir maka si khawatir akan terjadi bencana alam yang maha dahsyat melebih bencana alam yang seperti terjadi di MASAMBA.
  7. Para penambang Sungai BILA melakukan penambangan di area Pemukiman penduduk 25 sampai 30 KK terancam nyawanya.
  8. Lapangan sepak bola yang berada di Desa Bila Riase kecamatan Pituriase kabupaten Sidrap terancam longsor akibat penambangan yang di lakukan oleh UD.AHMAD(H. Ahmad Sadikin Halim.
  9. Nama nama perusahaan yang cukup para dalam melakukan pengrusakan lingkungan di Sungai Bila: 1). CV. EGHA, 2). UD. AHMAD, 3). CV. SHINTA PRATAMA, 4). CV. BILBOY
  10. bahwa sejak tahun 2018 sampai 2020 sudah dua kali Pemerintah mengeluarkan surat keputusan untuk menghentikan aktivitasnya untuk dilakukan pemilihan Sungai Bila yaitu SK BUPATI PERTANGGAL 04 OKTOBER 2018, HASIL RAPAT FORKOPIMDA 18 AGUSTUS 2020 DAN SURAT KEPUTUSAN PEMERINTAH TERSEBUT PARA PENAMBANG SUNGAI BILA TAK MENGINDAHKAN DAN TERUS MELAKUKAN APA YANG MEREKA MAU INGINKAN

Bahwa dari hasil investigasi kami tersebut diatas kalau mereka para penambang tidak di hentikan sesegera mungkin dan Pemerintah tidak melakukan tindakan penyelamatan serta penegakan hukum yang tegas bagi para pelaku usaha tambang di Sungai Bila apalagi penambangan dilakukan dibawa bendungan maka di khawatirkan Bendungan Bila akan mempercepat keruntuhan bendungan Bila.

Demikian yang kami sampaikan kepada bapak Presiden RI Ir.H. Jokowidodo, bapak menteri PUPR, bapak menteri ESDM agar izin bagi para pelaku usaha tambang di Sungai Bila dapat di evaluasi Kembali.”